Golput dan Anarkisme

Oleh: Wawan Gunawan

Drs Wawan Gunawan GOLPUT DAN ANARAKISME – Proses pesta demokrasi (pemilu) pemilihan anggota legislatif sudah hampir tahap akhir. Dalam Pemilu legislatif kali ini masih banyak menyisakan berbagai masalah, mulai dari validitas Daftar Pemilih Tetap (DPT) sampai pada kontroversi metode perhitungan suara. Ini menandakan proses pemilu kali ini masih sangat jauh dari sempurna. Atas ketidakberesan proses pemilihan legislatif terjadi saling tuding dan saling lempar tanggung jawab.

Dalam tulisan ini, penulis tidak akan memaparkan masalah tersebut di atas, tetapi yang tidak kalah penting adalah sisi lain dari proses pemilihan ini adalah jumlah golput yang diperkirakan mencapai 40%. Walapun, tidak ada data pasti tentang keberadaan golput ini, tetapi perlu disosoti mengapa animo golput ini begitu tinggi.

Untuk mengantisipasi jumlah golput ini, sebelum dilaksanakan pemilihan legislatif telah dilaksanakan tindakan preventif. Tindakan nyata untuk menghindari meningkatnya jumlah golput ini adalah fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Golput “haram”. Pernyataan ini sedikit konstroversi karena dasar hukumnya lemah dan ternyata tidak ada pengaruhnya pada jumlah golput. Sisi lain yang akan dikemukan dalam tulisan ini adalah masalah anarkisme.

Ditinjau dari teori sebab akibat antara golput dan anarkisme memiliki kesamaan orientasi, yaitu ketidakpercayaan terhadap pemerintah (negara). Namun, sikap golput sifatnya temporer. Sikap politiknya dapat dilihat pada saat pemilihan umum dan cenderung ketidakpercayaannya pada personal yang akan dipilih memimpin negara/pemerintah. Sedangkan anarkisme, sikap politik yang tidak percaya pada pemerintah (negara) sebagai sistem. Karena menurut pandangannya negara (pemerintah) dengan segala kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuhsuburkan penindasan terhadap kehidupan. Siapapun orangnnya yang memimpin negara (pemerintah) sikap ini cenderung tidak berubah. Sebagaimana dinyatakan oleh Errico Malatesta (1853–1932) menyatakan "Penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas"

Apakah golput sebagai embrio anarkis?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut di atas, perlu kiranya memahami esensi anarkisme. Pada awalnya anarkisme sebagai sebuah ide dan selanjutnya berkembang menjadi teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Atau, dalam tulisan The Political Philosophy of Bakunin, Mikhail Bakunin yang terkenal:

kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan"

Pandangan sekarang tentang anarkisme identik dengan kekerasan. Padahal kekerasan merupakan metode untuk mencapai tujuan politiknya. Tokoh Anarkisme yang tidak sepaham dengan hal itu adalah pemikir anarkis Alexander Berkman (1870-1936) dalam bukunya What is Communist Anarchist, menulis:

Anarkisme bukan Bom, ketidakteraturan atau kekacauan. Bukan perampokan dan pembunuhan. Bukan pula sebuah perang di antara yang sedikit melawan semua. Bukan berarti kembali kekehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia. Anarkisme adalah kebalikan dari itu semua. Anarkisme berarti bahwa anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok anda, ataupun memaksa anda. Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa yang anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang anda mau serta hidup didalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan

Kekerasan tetaplah bukan merupakan suatu ide eksklusif milik anarkisme, sehingga anarkisme tidak bisa dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna tentang anarkisme yang banyak dikenali banyak orang. Bagaimanapun kekerasan merupakan suatu pola tingkah laku alamiah manusia yang bisa dilakukan oleh siapa saja dari kalangan apapun.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka golput dan anarkisme adalah dua hal yang berbeda. Yang satu adalah pernyataan sikap yang merupakan respon terhadap ketidakpercayaan kepada para pengelola negara/pemerintah yang sifatnya temporer dan apatis. Sedangkan anarkisme merupakan suatu ajaran politik yang menentang terhadap keberadaan negara/pemerintah sebagai sistem. Oleh karena itu, sulit sangat jauh untuk menyatakann golput merupakan embrio anarkis.

Golput merupakan sikap politik dalam satu sistem pemerintahan yang sangat berkaitan dengan pendidikan dan budaya politik suatu negara. Oleh karena itu, khawatir terhadap golput merupakan sebagai gerakan anti pemerintah/negara terlalu jauh. (rd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: