In Memoriam, Gus Dur Ajarkan Hidup Sederhana

Gus Dur

RAKYAT DEMOKRASI – Kepergian tiba-tiba mantan Presiden Republik Indonesia, K.H. Abdurahman Wahid, atau dikenal Gus Dur, selain mengejutkan tokoh nasional, juga para tokoh dunia. Dengan tutup usianya Gus Dur, berharap mudah-mudahan akan muncul tokoh baru dari kalangan Nahdlatur Ulama (NU) untuk melanjutkan perjuangan almarhum. Demikian diantaranya dikatakan mantan Ketua MPR, Amien Rais, menanggapi meninggalnya mantan Presiden RI keempat itu.

Amien juga mengakui dirinya adalah sahabat sekaligus lawan berpikir Gus Dur. Dikatakannya, sebagai anak bangsa yang pernah menimba ilmu di Universitas Al-azhar, Gus Dur berhasil memajukan pondok pesantren menjadi lebih terbuka, serta mampu mendorong partisipasi pesantren  dalam pembangunan nasional dan dunia Islam.

“Kita kehilangan besar dengan tutup usianya Gus Dur. Tentunya saya berharap mudah-mudahan  akan muncul tokoh baru dari kalangan NU untuk melanjutkan perjuangan almarhum,” katanya. Menurut Amien, Gus Dur selama menjabat presiden RI berhasil mengubah lembaga kepresidenan menjadi lembaga yang tidak angker, dan dapat diakses oleh seluruh elemen bangsa.

Sementara itu Syaiful Yusuf mengatakan, ada satu ajaran Gus Dur yang tidak terlupakan, yaitu filosofi hidup sederhana. Pelajaran hidup sederhana itu senantiasa dinasehatkan Gus Dur pada orang-orang terdekatnya. “Beliau selalu mengajarkan hidup sederhana, apa adanya, dan jangan kemaruk harta,” kata Syaiful Yusuf, yang biasa disapa Gus Ipul itu.

Tidak kamaruk harta itu, menurut Gus Ipul, diperlihatkan oleh Gus Dur dengan selalu mendahulukan kepentingan banyak orang, bukan kepentingan memperkaya dirinya sendiri. Menurut Gus Ipul, salah satu hal yang tidak terlupakan adalah keputusan Gus Dur nrimo saat dilengserkan dulu. Gus Ipul sendiri mengakui sebagai orang yang selama ini dibesarkan Gus Dur.

Menurut Gus Ipul pula, keberhasilan Gus Dur melahirkan banyak tokoh nasionalitas lain, karena sifatnya yang low profile. Bagi Ipul, Gus Dur bukan orang yang ingin naik panggung sendiri. Presiden keempat itu, selalu merintis orang-orang di sekitarnya agar ikut tampil. “Orang didikannya selalu dibesarkan dengan cara memberikan  kesempatan dan menaikkan rasa pandang anak didiknya itu,” . Hal tersebut dirasakan sendiri oleh Gus Ipul, diantaranya ialah bagaimana ia dikenalkan dengan tokoh-tokoh besar dan terhormat.

Hal itu pula yang membuat sosok yang pernah dididik Gus Dur selalu memiliki rasa hormat padanya, termasuk yang berseberangan pendapat. “Coba saja, orang-orang yang berseberangan pendapat masih ngajeni beliau. Termasuk juga ketika saya pernah berseberangan sama beliau,” kenang Ipul.

Demikian pula Gus Dur sendiri dengan orang yang berseberangan pendapat juga tidak pernah merasa sentiment. Beliau juga tidak mengenal istilah yang mendukungnya mendapatkan tempat atau tidak, tambah Ipul.

Sementara bagi Choirul Anam, ketokohan Gus Dur tidak ada duanya di Indonesia. Terutama sikapnya yang egaliter dalam menegakkan demokrasi di Indonesia. Di tangan Gus Dur  iklim demokrasi berjalan dengan baik, karena sikap egaliter Gus Dur. Salah satu egaliter, kata Choirul Anam, yang ditunjukan Gus Dur  tersebut dinilai dari keputusannya saat membebaskan tahanan-tahanan politik. Termasuk juga memberikan kebebasan warga Tionghoa untuk berekpresi dengan mencabut PP No.14/1967. “Itu kebijakan yang luar biasa menurut saya,” kata Anam.

Sementara itu Khofifah Indar Parawansa menyatakan, masih terngiang dalam pendengarannya, saat percakapan pada pertemuan terakhirnya dengan Gus Dur dua tahun lalu. “Mbak, sekarang ini yang saya pikirkan tinggal NU dan PKB,” tutur Khofifah menirukan ucapan Gus Dur. Dia tidak tahu pasti, apakah ucapan itu disampaikan juga ke kader NU lainnya. “Yang pasti dua kali ketemu, ucapan itu terus yang disampaikan ke saya,” tutur Khofifah.

Oleh karena itu, pasca meninggalnya Gus Dur Khofifah berencana untuk menyampaikan ke teman terbatas. Khususnya yang berada dalam struktur internal PKB. Rencananya dia akan bebeberkan semua percakapannya dengan orang paling berpengaruh di partai berlogo bumi bintang sembilan itu. Dia berharap, agar konflik internal yang selama ini memanas di PKB bisa segera berakhir, dengan cepat. Dia melakukan itu semua, sebagai bentuk napak tilas kehidupannya dengan Gus Dur. Sebab, dia mengaku Khofifah yang dahulu bukanlah siapa-siapa. Sampai Gus Dur memberikan kesempatan menjadi anggota DPR melalui PKB pada 1998-2000. Memori Khofifah kembali berputar, saat dirinya menjadi menteri melalui mesin politik PKB. Tokoh sentral NU itu memasukannya ke kabinet persatuan nasional dengan menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan.

Bukan hanya itu, Khofifah tidak akan pernah melupakan wejangan yang diberikan Gus Dur. Yaitu, menjadi diri sendiri. Menjadi manusia yang lebih berkarakter dan memperkuat integritas diri. Gus Dur adalah sosok yang menjaga konsistensi dan karakteristik dalam kepemimpinan maupun pemikiran. Karena itulah, yang membuat Khofifah semakin dewasa dalam karir politiknya.  (ersum/GS/RD))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: