Meningkatkan Kualitas Pendidikan Dasar

Pendidikan

BEBERAPA waktu lalu, tepatnya Februari 2001, Depdiknas, Depag, disponsori United Nation Children’s Fund (Unicef) menyelenggarakan kegiatan workshop atau konferensi strategi peningkatan mutu pendidikan dasar melalui Future Search Conference (FSC). Kenapa konferensi ini di ulas sekarang? Karena konferensi seperti ini, tidak pernah diadakan lagi sampai sekarang.

Di konferensi ini, berbagai indikator tentang masih rendahnya mutu pendidikan dasar kita, banyak melatarbelakangi dilaksanakannya konferensi itu, sehingga dipandang perlu dilakukan perumusan strategi untuk meningkatkannya.

Ketika itu masih diingat, salah satu kegiatan tersebut adalah mendorong para stakeholder untuk peduli, serta berpartisipasi dalam peningkatan kualitas pendidikan dasar di Indonesia. Oleh karena itu, konferensi sengaja mengundang unsur-unsur stakeholder untuk berpartisipasi. Adapun unsur stakeholder yang diundang itu, adalah pengambil kebijakan di pusat seperti Depdiknas, Depag, DPR, pengambil kebijakan di daerah seperti bupati, wali kota, Bappeda, DPRD, organisasi internasional (Unesco, Unicef), perencana pendidikan, LSM, yayasan non pemerintah, guru, siswa, orangtua, pengusaha dan kalangan media massa.

Konferensi dengan peserta heterogen dan terbatas jumlahnya itu, memang jarang dilakukan, meskipun bukan berarti tidak pernah sama sekali. Peserta konferensi semacam ini, diperlukan peserta yang pintar mengurangi egonya untuk mau mendengarkan pengalaman orang lain. Bayangkan, seorang ketua komisi di DPR pusat harus mau mendengarkan celoteh anak kelas enam SD.

Seorang direktur di departemen harus mau mendengarkan keluhan langsung dari guru, seorang bupati dan wali kota harus bersedia dialog dengan orangtua murid, dan sebagainya. Mereka “dipaksa” duduk bersama dan saling membicarakan masalah pendidikan dasar.

Salah satu hal yang menarik dari konferensi adalah diterapkannya metode FSC. Metode yang dikembangkan  di AS ini masih asing bagi kita di Indonesia, karena di AS sendiri juga tergolong masih sangat baru. Itulah sebabnya, panitia sengaja mengundang dua pakar FSC dari AS, yakni Katharine Esty dan Sandra Janoff, guna menjadi fasilitator dalam kegiatan  tersebut.

Dengan menerapkan metode FSC kita menjadi semakin yakin, bahwa permasalahan pendidikan dasar di Indonesia itu berhubungan dengan masalah-masalahan global, baik di masa lalu maupun masa kini. Mulanya orang tidak banyak bahwa peristiwa di dunia internasional masa lalu, seperti Perang Teluk di kawasan Teluk, Tragedi Tian An Men di Cina, Gerakan Massa (People Power) di Flipina, dsb. Berpengaruh terhadap pendidikan dasar di Indonesia.

Bahkan sampai sekarang pun, masih banyak diantara kita, termasuk para pelaku pendidikan kita, yang tidak menyadari bahwa peristiwa global masa kini seperti naiknya Bush menjadi presiden AS, ditemukannya teknologi cloning, dikembangkannya cyer media di negara-negara  maju dsb. Juga berpengaruh terhadap pendidikan dasar  di Indonesia.

Setelah berhasil membuat garis peristiwa global di masa lalu sampai masa kini, ternyata munculah berbagai kecenderungan yang dapat kita tangkap. Dibidang politik misalnya, perjuangan manusia ke arah kehidupan yang lebih demokrasi ternyata makin hari semakin gencar dilakukan, tidak saja di negara-negara terbelakang dan berkembang, tetapi juga di negara maju.

Dibidang ekonomi, ketergantungan negara-negara berkembang terhadap negara-negara maju, termasuk terhadap badan-badan ekonomi internasional tidak makin surut tetapi justru semakin besar.  Dibidang sosial budaya, terjadi silang budaya (cross cultural) antar bangsa  merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan lagi. Keadaan tersebut, ternyata berpengaruh kepada tuntutan kemajuan masyarakat, yang hal ini sangat bertumpu pada pendidikan dasar. Orang yang pendidikan dasarnya tidak bermutu, tentu tingkat keterdidikannya juga terhambat, seperti akan menyebabkan kendala bagi kemajuan masyarakat yang pada gilirannya tidak akan pernah mampu menjawab tantangan global.

Kita dapat membuat illustrasi komparatif konkrit. Masyarakat Jepang diberi pelayanan pendidikan dasar yang bermutu, dari SD sudah difasilitasi dengan teknologi yang handal disamping ditanami nilai-nilai sosial kemanusiaan yang memadai. Tingkat partisipasi pendidikan dasarnya pun mencapai 100 persen. Implikasinya bangsa Jepang mampu leading dalam  menjawab tantangan global sekarang ini. Sebaliknya masyarakat Bangladesh, tidak mendapatkan pendidikan dasar yang bermutu. Sarana dan fasilitas pendidikan jauh dari kata memadai, disamping anak-anak tidak sekolah masih ada dalam jumlah yang banyak. Implikasinya, bangsa Bangladesh sampai saat ini tertinggal dari bangsa-bangsa lain dalam mengejar kemajuan.

Disamping pengaruh yang bersifat nonteknis, maka berbagai peristiwa dunia ternyata memang terpengaruh langsung pada pelaksanaan pendidikan dasar.

Gejala global tentang makin ketatnya perjuangan kehidupan yang demokratis, pasti mengubah iklim sekolah yang lebih demokratis pula. Bila dulu ada guru memukul anak, itu hal yang biasa. Maka sekarang bila itu terjadi, pasti akan menjadi persoalan publik. Kalau dulu anak-anak SD dan SLTP kita cukup diajarkan Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia, maka sekarang mulai banyak orangtua yang menuntut anaknya diberi pelajaran Bahasa Inggris.

Sekarang kita baru sadar, bahwa kurikulum pendidikan dasar kita harus lebih demokratis, artisipatif, dan manusiawi. Kurikulum kita harus mampu membekali anak didik dengan penguasaan ilmu dan teknologi yang semakin canggih, disamping dipersarati dengan ajaran moral dan tuntutan hidup sehat.

Kebijakan
Disamping kecenderungan global yang berpengaruh terhadap pendidikan dasar di Indonesia, maka rangkaian kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kita dalam beberapa dasa warsa terakhir ini, juga sangat mempengaruhi pendidikan dasar kita.
Selama tiga warsa terakhir, pemerintah telah menciptakan serangkaian kebijakan tentang pendidikan pada umumnya dan pendidikan dasar pada khususnya. Misalnya dikembangkannya sistem dualisme sekolah dasar, dibangunnya SD INpres di seluruh pelosok tanah air, diakhirnya era SPG yang sangat populer pada waktu itu, dicanangkannya wajib belajar sekolah dasar,  diterimanya Avicena Award dari Unesco, dilaksanakannya program PGSD dan PGSLP, dikeluarkannya UU Sisdiknas, diturunkannya PP tentang pendidikan dasar, diakhirinya subsidi pemerintah terhadap sekolah swasta, diruntuhkannya tembok IKIP sebagai pencetak guru SD dan SLTP, dan masih banyak lagi, yang kini menjadi UPI.

Aneka kebijakan pemerintah tersebut tadi, tentu banyak yang produktif, namun tentu banyak pula yang antiproduktif terhadap usaha-usaha kita untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar. Sebenarnya kita bisa mengambil pelajaran dari kekayaan kita tersebut, disisi lain kita dapat mengambil hikmah dari berbagai peristiwa itu. Implementasinya, kalau kita akan menyusun strategi peningkatan mutu pendidikan dasar, maka akan ada baiknya bahkan sudah seharusnya, kita melakukan suatu analisis kebijakan (policy analysis) terhadap aneka kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, katakanlah dalam dua atau tiga dasa terakhir.

Dalam analisis tersebut, dibahas efektifitas masing-masing  kebijakan, dampak kebijakan dari berbagai segi dan dimensi, reaksi para pengelola pendidikan dan masyarakat, serta interkoneksinya dengan kebijakan-kebijakan yang lainnya. Hasil analisis kebijakan itulah, yang dijadikan sebagai dasar penyusunan strategi. Dengan demikian, strategi peningkatan mutu pendidikan dasar kita tidak semata-mata disusun dengan pendekatan empirik, tidak hanya disusun di atas meja, namun juga berdasarkan pengalaman di lapangan. Kalau hal ini dapat dilaksanakan, tentu pendidikan akan lebih realistik dan bermanfaat.** (R. Sumarna/RD)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: