Pendidikan Bukan Hanya Sekedar Bisnis

Oleh : R. SUMARNA
lembaga-pendidikan-bukan-sekedar-bisnis

RD | PENDIDIKAN – SETIAP kali mengunjungi kota-kota besar di Indonesia, maka ke mana mata memandang tampak bangunan panjang yang terbagi-bagi menurut  papan namanya. Kita mengenalnya sebagai ruko alias rumah toko. Dinamai begitu, mungkin karena memang konsepnya sebagai tempat tinggal di lantai atas. Namun nyatanya kini kebanyakan ruko menjadi pusat perkantoran dan berbagai bisnis.

Diantaranya bisnis berbagai lembaga pendidikan. Hebatnya, diantaranya merupakan kampus suatu perguruan tinggi dengan program pascasarjana dan berafiliasi dengan perguruan tinggi yang terkenal di dalam negeri maupun di luar negeri. Sementara sebagian besar lain, sekedar sebagai  lokasi kursus bahasa asing, atau sekolah keterampilan-keterampilan tertentu bagi yang ingin lekas memperoleh pekerjaan.

Soal ruko sungguh bukan masalah bagi penulis. Sebaliknya, penulis salut kepada upaya mereka untuk mengisi kelemahan pendidikan di negeri kita. Sudah menjadi pengetahuan umum dan memang dirasakan betapa mutu pendidikan di Indonesia begitu rendah.

Hal ini berdasarkan hasil survei Human Development Index (HDI) menemukan, Indonesia menduduki peringkat 102 dari 106 negara, The Political Economic Risk Consultation (PERC) melaporkan, Indonesia paling buncit dari 12 negara yang disurvei, dan kajian The Third International Mathematics and Science Study Repeat (TIMSS-R) 1999 menyatakan, bahwa siswa Indonesia menempati urutan ke-32 untuk IPA dan ke-34 untuk matematika dan 38 negara di Asia, Australia dan Afrika.

Tanpa upaya keberadaan sekolah-sekolah di ruko-ruko itu, yang berada di bawah naungan pendidikan luar sekolah, apa jadinya sumber daya manusia hasil pendidikan menengah kita yang 878 persennya tidak maju ke perguruan tinggi itu dalam era persaingan terbuka?

Ketika negara tak sanggup menyediakan anggaran dana besar untuk pendidikan sudah semestinya masyarakat menerobos dengan inovasi model pendidikan, demi kelangsungan dan masa depan bangsa. Adalah baik bila mereka memberikan materi pendidikan berupa bekal life skill atau  kecakapan yang diperlukan mengatasi problema ketika memasuki persaingan terbuka.

Masalah pendidikan yang diselenggarakan negara kita tentang lulusannya yang belum memiliki kesiapan kerja yang memadai.  Mereka butuh dimatangkan dalam hal kecakapan pribadi (personal skill), pemikiran, sosial, akademis, sampai vocational. Penulis percaya mereka para penyelenggara sekolah yang memberi kecakapan itu pasti punya idealisme tersendiri. Tak mungkin mereka tanpa kepedulian dan idealisme, karena pendidikan adalah investasi sumber daya manusia. Hasilnya adalah kualitas hidup, dan kehidupan yang lebih baik dari para pesertanya.

Bidang pendidikan sebagai peluang bisnis memang amat terbuka, yakni seterbuka rentang hasil pendidikan formal oleh negara dengan kecakapan yang dibutuhkan untuk mengarungi kehidupan nyata. Begitu banyak angkatan kerja yang sadar, dan membutuhkan sederet kecakapan yang tidak diperolehnya di pendidikan menengah, sementara mau melanjutkan ke perguruan tinggi sungguh berat.

Karena itu, rasa-sesal dan kesal pun meluap ketika muncul kabar tak sedap tentang ada suatu sekolah atau lembaga pendidikan yang menjadikan pendidikan sebagai kedok belaka. Yang mereka kejar ternyata bukan kian baiknya kualitas dari peserta programnya, namun keuntungan material yang disedot dengan berbagai cara dan alasan.

Misalnya, dengan menyandang merek asing. Pertanyaannya, apa betul lembaga asal luar negeri yang dibawanya adalah jaminan bermutu dan tergolong bagus? Sebab, tak semua yang dari sama selalu lebih baik dan tepat dari yang di sini. Belum lagi tentang sertifikat dan gelar yang dapat dibeli dengan sejumlah uang, sementara yang bersangkutan tak ikut sekolah dan memenuhi kaidah keilmuan.

Betul bahwa bisnis apapun, termasuk bisnis pendidikan, sama-sama tidak mampu berlanjut dan berkembang tanpa keuntungan. Namun, kita tentu sependapat bila setiap bisnis, juga bisnis pendidikan, harus dijalankan dengan etika atau kepatutan menurut semua sisi. Seperti  dengan memanfaatkan situasi sebagian masyarakat kita yang memandang gelar untuk menegaskan keberadaannya.

Suatu gelar mestinya dicapai tidak dengan cara sembarangan. Gelar adalah tanda dari perjalanan waktu dan pendalaman. Tak mungkin gelar didapat dengan perjalanan ke luar negeri satu minggu lalu pulang membawa oleh-oleh “DR” atau bahkan “professor”. Jadi sungguh tak terpuji sikap yang menggampangkan proses mendapatkan sebuah gelar akademis. Pelaku bisnis sekolah dan pendidikan sepantasnya mampu menggenggam etika dan kepatutan lebih kuat ketimbang pebisnis bidang lain. Karena, pebisnis pendidikan bukan pebisnis biasa, melainkan sekaligus pendidik. ** (Penulis adalah Wartawan Senior Kota Bandung)

2 komentar

  1. Itulah yang perlu kita perangi mas, minimal kita mulai dari diri dan keluarga kita, jangan sampai menambah pelakunya.

  2. terimakasih,informasi anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: