Film Nasional : Dicaci dan Dipuji

Film Indonesia

RAKYAT DEMOKRASIDunia perfilman Indonesia kini tengah dilanda kelesuan, meskipun beberapa produser mencoba untuk bangkit kembali ke masa keemasan sekitar tahun tujuhpuluhan, namun sudah jatuh sulit berdiri. Sudah jatuh tertimpa tangga, demikian pepatah mengatakan.

Karena dunia perfilman yang sedang dilanda kelesuan sekarang ini, ternyata harus menerima juga ocehan dan caci maki dari berbagai lapisan masyarakat. Sebagai contoh, pemutaran film berjudul “Goyang Karawang” yang dibintangi aktris seksi Julia Perez atau yang dikenal dengan nama Jupe, dan pedangdut Dewi Persik (Depe), akhirnya diprotes masyarakat Karawang.

Demikian pula, film “?” hasil buah karya sutradara Hanung, yang diputar di Kota Bandung, mendapat protes karena menyangkut nama kepercayaan dan agama. Sehingga wibawa para insan film dimata masyarakat pun tampaknya mulai luntur. Jika dahulu seorang bintang tokoh terkenal karena perannya dalam sebuah cerita film, kini malah nyaris tenggelam.

Seperti pada tahun enampuluhan waktu itu ramai film heroik yang dijadikan film dokumenter perjuangan bangsa, masyarakat pun tak luput mengacungkan jempol tanda pujian. Namun kini, para bintang layar lebar seolah ditinggal penggemarnya. Maka tak heran dengan banyaknya Televisi swasta sekarang ini, merupakan lahan usaha baru bagi para insan film untuk membuat sinetron, walau honornya jauh lebih rendah dibanding layar lebar.

Kenapa dunia perfilman nasional seperti ditinggal para penggemarnya? Pertanyaan ini pun sering timbul di kalangan masyarakat dan para pengamat film. Namun jawabannya sangat bervariasi bahkan seolah-olah mencari kambing hitam yang tak dapat dijadikan sebagai jembatan jalan keluarnya.

Film nasional harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri,hanya selogan semata. Sebab, kian marak dan bebasnya importir mendatangkan fim dari mancanegara, semakin tertekan pula dunia perfilman nasional. Sementara dalam segi teknik perfilman kita tertinggal jauh. Walaupun penonton kita dalam hatinya turut prihatin terhadap perkembangan dunia perfilman nasional, namun kenyataannya tetap akan mencari film yang bermutu dalam segala hal dan dianggap telah dimiliki oleh film import.

Beberapa tahun lalu, sempat pula terjadi berbagai kritikan terhadap bebasnya masuk film luar negeri ke Indonesia. Bahkan para pengamat dan insan film nasional sempat protes terhadap kebebasan dan monopoli peredaran film dari luar negeri ini. Namun semua kritikan itu hanya berlalu tanpa kesan yang akhirnya kandas tiada bekas.

Semua orang tahu dunia perfilman nasional kita dituntut mengembangkan usaha dari berbagai aspek, agar bisa bersaing dengan film tamu. Namun, apa daya, perkembangan mereka melaju cepat dan sulit untuk diikuti. Maka terpaksa dunia perfilman kita harus tetap tertinggal jauh.

Meskipun dunia film layar lebar kita masih jalan dengan tersendat-sendat, namun punya kesan yang monoton mengandalkan teknik dan thema cerita pada masa keemasan di tahun tujuhpuluhan. Memang film berthemakan “sex and Crime” pada saat itu sempat menjadi primadona di negeri kita. Namun, dalam kurun waktu belakangan ini thema seperti itu sudah ditinggalkan penggemarnya. Bahkan balik mencaci, thema demikian seolah-olah suatu yang menjijikkan.

Namun apa daya, yang harus bisa dilakukan kini thema film yang mengandalkan keindahan tubuh wanita itu masih terus berlangsung. Hampir semua cerita dalam film layar lebar seolah-olah tak terlepas dari mengobral paha dan kemontokan buah dada. Bahkan adegan-adegan seronok sering ditampilkan. Begitu poster-poster besar yang menjurus ke pornoisme banyak terpampang di tempat-tempat keramaian, yang secara kebetulan bioskop-bioskop saat ini lokasinya di gedung-gedung pusat perbelanjaan..

Jika pada dekade tahun enampuluhan hingga tujuhpuluhan film imporlah yang melakukan demikian, mungkin karena disesuaikan dengan keinginan pasar saat itu.,Namun saat ini, justru adegan film nasional yang menampilkannya. Sementara film dari mancanegara sudah mulai meninggalkan. Akibatnya, kejenuhan pun timbul dikalangan pecinta film nasional, karena para pecinta terus menuntut sesuatu yang baru.

Namun apakah yang hendak diperbuat para insan film nasional? Ternyata belum bisa beranjak dari produksi film dengan segudang bumbu seksnya. Pamer paha dan adegan ranjang yang sudah dianggap klasik, masih terus dilakukan. Tak hanya dalam cerita yang berthemakan percintaan saja, namun juga film komedi turut membumbuinya dengan berbagai adegan seronok. Upaya ini seolah-olah terpaksa dilakukan demi memenuhi kebutuhan bisnis belaka tanpa memperhitungkan lagi etika dan budaya bangsa.

Istilah globalisasi dalam bidang komunikasi, yang sudah menjadi ucapan klise, terkadang jadi tuduhan yang tak beralasan. Kendati demikian, isu globalisasi yang menjadi thema umum secara tak langsung sudah membuat masyarakat semakin selektif dalam mencari hal yang baru. Hal ini tidak hanya dalam masalah perfilman saja, tapi dalam berbagai bidang. Hal ini dapat dipahami sebab berbagai produk teknologi komunikasi yang kian cepat berkembang, dianggap sebagai pemicu untuk globalisasi.

Demikian cepatnya perkembangan arus globalisasi, demikian cepat pula perkembangan teknologi audio visual dan berbagai media lainnya termasuk media cetak, dunia perfilman dan pertelevisian yang satu sama lainnya saling berpacu. Persaingan dunia perfilman kita, bukan hanya berpacu dengan film import saja,tapi dunia pertelevisian yang semakin berkembang cepat, patut diperhitungkan pula. Lantas bagaimanakah upaya kita untuk menumbuhkembangkan dunia perfilman kita, memang masih banyak kendala yang dihadapi.

Kembali kepada dunia perfilman kita, jika terus dibiarkan monoton yang hanya mengandalkan keindahan tubuh wanita, semakin besar kemungkinannya bakal terjadi krisis moral di masyarakat. Jika krisis moral sudah berkembang demikian, maka tak bisa dihindari lagi bakal terjadi gangguan stabilitas di masyarakat, baik secara politis, atau kriminalitas murni.

Mungkin pernah beberapa kali terungkap, kasus pemerkosaan yang secara kuantitas kian meningkat, justru dilakukan oleh para remaja. Mereka secara terus terang akibat pengaruh film baik yang diputar dilayar lebar atau dari tayangan layar kaca, bahkan dari film/video mesum yang diputar secara sembunyi-sembunyi. Kendati hal itu merupakan contoh kecil dan masih tergolong samar-samar, namun patut kita segera antisipasi. Sebab lebih baik mencegah dari pada mengobati setelah terjadi.!***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: