Pendidikan Kita Masih Fokus Pada Administrasi

pendidikan indonesia

RAKYAT DEMOKRASI (RD) LYNDON B. JOHNSON. Presiden Amerika Serikat saat itu, berujar : “Di belakang meja, saya telah belajar satu kebenaran besar. Jawaban untuk semua masalah nasional kita hanyalah satu kata, yaitu pendidikan.”

Pendidikan di Indonesia sendiri, kebanyakan masih difokuskan pada sisi administrasi. Padahal, Undang Undang Sisdiknas menyatakan, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Jelas, pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat, namun lebih mendalam yaitu pemberian nilai pengetahuan, pertimbangan, dan kebijaksanaan.

Sementara di Tanah Air ini, pendidikan kebanyakan masih difokuskan pada segi administratif. Silabus dipaksakan benar, daftar hadir dipaksakan lengkap, materi harus dipaksakan selesai, nilai akademik harus dipaksakan tinggi, kelulusan harus dipaksakan 100 %, dan seterusnya.

Pendidik dan tenaga kependidikan jarang memikirkan, sebenarnya anak-anak mau dijadikan apa? Sebab, mereka inilah yang akan menggantikan generasi tua. Jelas,tidak diragukan lagi pembentukan akhlak mulia merupakan tujuan tertinggi bagi setiap lembaga pendidikan. Akan tetapi, dalam kenyataannya banyak lembaga pendidikan, baik sekolah maupun madrasah, bahkan sebagian kecil pesantren tidak menunjukkan hal seperti itu. Akibatnya, tujuan utama pendidikan selama ini terabaikan dan gagal mencapai pembentukannilai moral atau akhlak.

Kegagalan ini dapat dilihat dari semakin tingginya nilai kelulusan berbanding lulus dengan tingginya angka kenakalan anak-anak kita dari tahun ke tahun. Anak-anak tidak lagi bersikap sopan santun kepada orangtua dan orang yang lebih tua,kurang peduli terhadap sesama, mengucapkan kata-kata kotor yang jauh dari etika, mudahnya terlibat perselisihan dan tawuran,pergaulan bebas, geng-gengan (geng motor-red), merokok, dan mengkonsumsi narkoba, adalah pemandangan umum yang sering kita temukan pada sekumpulan anak-anak.

Padahal, tahun 2.500 tahun silam, Socrates telah berkata bahwa tujuan paling mendasar dari pendidikan adalah membuat seseorang menjadi good and smart. Sekitar 1.500 tahun yang lalu, Nabi Muhammad SAW, juga menegaskan, bahwa misi utama dalam mendidik manusia adalah untuk pembentukan akhlak yang baik. Berikutnya, ribuan tahun setelah itu, rumusan tujuan utama pendidikan tetap pada wilayah serupa, yakni pembentukan kepribadian manusia yang baik. Tokoh-tokoh pendidikan Barat dan Timur sekarang pun seakan menggemakan kembali gaung yang disuarakan Socrates dan Nabi Muhammad SAW, bahwa moral, akhlak, atau karakter adalah tujuan yang tak terhindarkan lagi dari dunia pendidikan.

Namun demikian, sebagian orang masih banyak yang berpandangan bahwa sekolah seharusnya fokus pada prestasi akademik (academic achievement) dan telah diterima secara luas.

Pandangan inilah yang membuat sekolah sebagai institusi pendidikan lupa terhadap pembentukan karakter siswa. Padahal, sekolah diposisikan sebagai media sosialisasi kehidupan kedua setelah keluarga, yang memiliki peran yang dalam memperkenalkan dan menanamkan nilai dan norma sosial dalam pembentukan kepribadiannya.

Pemikiran ini memberikan jawaban, bahwa sekolah ikut bertanggungjawab terhadap pembentukan moral atau karakter di kalangan para siswanya. Jawaban ini bukan upaya mengkambinghitamkan sekolah, karena memang tanggungjawab utama pembentukan karakter sebenarnya terletak pada keluarga. Namun, sekolah sebagai institusi pendidikan yang pendidikannya itu sendiri adalah pembudayaan, tidak dapat menghindarkan diri dari upaya pembentukan karakter positif bagi anak didiknya.**

2 komentar

  1. transmedia20 · · Balas

    Bagaimanapun juga pendidikan adalah hal terpenting yang harus menjadi prioritas utama pemerintah

  2. tanpa pendidikan tidak ada moral yang sesuai dgn budaya demorasi http://hadedaniel.blogspot.com/2011/09/negara-demokrasi.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: