Ketua MK Ditangkap Tangan KPK Bersama Anggota DPR dan Bupati

Lagi, KPK bikin kejutan : tangkap tangan 5 (lima) orang dengan barang bukti berupa uang dollar Singapura yang diperkirakan jumlahnya 2 – 3 milyar jika di kurs-kan ke rupiah. Yang mengejutkan, operasi tangkap tangan itu dilakukan di kompleks Widya Chandra, tepatnya di rumah dinas Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar (AM). AM ditangkap bersama 2 orang : seorang wanita berinisial CHM, seorang anggota DPR (diduga dari Fraksi Golkar) dan CN, seorang pengusaha. Sedangkan 2 orang lainnya ditangkap di sebuah hotel di Jakarta Pusat, yaituHB (diduga Bupati Gunung Mas, Kalimantan Selatan) dan DH (swasta). Diduga upaya penyuapan terkait kasus sengketa Pilkada Gunung Mas.

Operasi tangkap tangan yang dipimpin penyidik KPK Novel Baswedan itu dilakukan sekitar pukul 22.00, berdasarkan informasi yang diterima KPK beberapa hari belakangan ini. Saat ini KPK sudah memberikan KPK-line di rumah Akil Mochtar serta 2 buah mobil, termasuk mobil sedan dinas AM. Penggeledahan juga dilakukan di Gedung MK termasuk ruang kerja AM. Para Hakim Konstitusi serta Sekjen MK Djanedri M. Ghaffar berkumpul di Gedung MK. Novel Baswedan sendiri yang memberikan penjelasan kepada Sekjen MK perihal penggeledahan dan meminta tak satu pun orang yang masuk ke ruang kerja Ketua MK.

Kejadian ini sungguh mengejutkan. MK, lembaga yang semasa dipimpin oleh Mahfud MD dikenal sebagai lembaga yang bersih, kini telah ternoda karena Ketuanya ditangkap tangan KPK. Kita mungkin masih ingat bagaimana Mahfud MD mengajak Sekjen MK, Djanedri M. Ghaffar ke istana, menemui Presiden SBY, pada Mei 2011, untuk melaporkan perilaku tak etis Nazaruddin yang saat itu masih menjabat sebagai anggota Komisi III DPR dan sekaligus Bendahara Umum Partai Demokrat. Nazar pernah sempat memberikan sebuah amplop berisi sejumlah uang dollar Singapura kepada Djanedri pada suatau malam usai pertemuan di sebuah restoran. Berkat laporan Mahfud MD itulah SBY kemudian tak ragu untuk menonaktifkan Nazaruddin yang saat itu masih dibela oleh kolega-koleganya di DPR dan Demokrat.

Jujur saja, kekaguman saya pada Pak Mahfud MD makin bertambah. Entah berapa banyak perkara sengketa Pilkada yang telah ditangani Mahfud dan perkara kontroversial lainnya, selama masa jabatannya sejak 2008 – 2013. Namun sampai akhir masa jabatannya, Mahfud MD tetap bersih. Kini, Akil Mochtar – dulu pernah menjadi anggota DPR dari Golkar – baru menjabat beberapa bulan saja sudah tertangkap tangan KPK. Bukan hanya Mahfud, seluruh hakim konstitusi di lingkungan MK serta Sekjennya relatif bersih dari issu suap, ketika masih dipimpin Mahfud. Bahkan waktu itu orang-orang dekat istana yang sempat gerah dengan pernyataan-pernyataan tajam Mahfud soal mafia narkoba yang mulai “masuk ke istana”, pernah mengancam akan membuka borok MK, namun sampai akhir masa jabatan Mahfud, ancaman itu cuma gertak sambal belaka.

Semasa dipimpin Mahfud, MK pernah membuat terobosan yang mengijinkan KPK memutar rekaman hasil sadapan pembicaraan telepon antara Anggodo Widjojo (kakak Anggoro Widjojo yang masih buron) dengan sejumlah orang yang isinya sangat mencengangkan publik. Saat itulah dikenal sebutan “Truno 3” yang diduga mengarah pada Kabareskrim Mabes Polri yang saat itu dijabat oleh Susno Duadji. Bahkan Anggodo dengan bebas menyebut nama Susno tanpa kata “pak”, seolah pada teman sendiri. Juga disebut-sebut nama seorang Jaksa di Kejagung. Rekaman sadapan yang diperdengarkan di gedung MK dan disiarkan langsung oleh beberapa stasiun TV itu kemudian membuat dukungan kepada KPK makin mengkristal dan itulah kasus cicak vs buaya jilid pertama.

Kini, pasca penangkapan Akil Mochtar, seolah makin membenarkan bahwa orang bersih dan jujur di republik ini sudah makin langka. Jika Ketua MK saja bisa dengan mudah – masa jabatan baru seumur jagung – menerima suap, maka kemana lagikah rakyat akan mencari keadilan? Kelak, hasil Pilkada akan makin mudah digugat, ada atau tidak kecurangan. Pemenangnya bukan lagi yang benar-benar berhak, namun yang punya uang banyak, punya koneksi di DPR dan dibeking pengusaha. Semoga saja ini tak terjadi. Berharap penangkapan AM ini akan jadi cambuk pelecut bagi hakim konstitusi lainnya, agar kembali ke jalan yang benar dan marwah MK sebagai lembaga tinggi kembali disegani masyarakat seperti ketika masih dipimpin Mahfud MD. Go ahead KPK, rakyat mendukung penuh! Hanya mereka yang tak bersih yang gerah dengan sepak terjang KPK.

sumber :  Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: