korupsi bansos rugikan negara

Mantan Ketua PT Jabar pernah minta Rp 2m pada Dada

Dalam kesaksian sidang lanjutan perkara Bansos Kota Bandung, yang menghadirkan mantan Wali Kota Dada Rosada mengungkap bahwa mantan Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat Sareh Wiyono ikut juga meminta sejumlah uang untuk membantu upaya banding tujuh terdakwa. Dada, dalam kesaksiannya menyebut bahwa Sareh meminta uang Rp 2 miliar.

Dada mengaku tidak merealisasikannya. Dia kelabakan dengan Hakim Setyabudi yang berupaya memerasnya.

“Iya pernah diminta uang Rp 2 miliar dari Sareh, tapi tidak dipenuhi, saya bilang uang banyak itu dari mana” kata Dada Rosada di Pengadilan Tipikor Bandung, Kamis (3/10).

Setyabudi pun, kata Dada, pernah menyampaikan untuk membantu banding di Pengadilan Tinggi Jawa Barat. Upaya itu agar tak mengubah hukuman satu tahun pada tujuh terdakwa korupsi Bansos Kota Bandung yang merugikan negara Rp 9,9 miliar.

“Hukuman satu tahun, karena kerugian negara sudah dikembalikan. Supaya tetap satu tahun ada upaya untuk tidak mengubah keputusan banding oleh PT,” jelasnya.

Dada mengaku suap perkara korupsi dana bansos di Pengadilan Negeri Bandung itu mencapai Rp 6 miliar. Uang dikeluarkan memenuhi keinginan Setyabudi, untuk keperluan mulai dari pengalihan status tahanan 7 terdakwa, dana hiburan, hingga pembelian rumah untuk Hakim Setyabudi.

Belum lagi uang pengembalian negara yang diharuskan terkumpul Rp 9,9 miliar. Dada menambahkan untuk mengembalikan uang negara didapat dari urunan para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkot Bandung yang terkumpul hampir Rp 5 miliar.

antaranews.com

Iklan
Akiel Mochtar_Ketua Mahkamah Konstitusi RI

Ketua MK Ditangkap Tangan KPK Bersama Anggota DPR dan Bupati

Lagi, KPK bikin kejutan : tangkap tangan 5 (lima) orang dengan barang bukti berupa uang dollar Singapura yang diperkirakan jumlahnya 2 – 3 milyar jika di kurs-kan ke rupiah. Yang mengejutkan, operasi tangkap tangan itu dilakukan di kompleks Widya Chandra, tepatnya di rumah dinas Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar (AM). AM ditangkap bersama 2 orang : seorang wanita berinisial CHM, seorang anggota DPR (diduga dari Fraksi Golkar) dan CN, seorang pengusaha. Sedangkan 2 orang lainnya ditangkap di sebuah hotel di Jakarta Pusat, yaituHB (diduga Bupati Gunung Mas, Kalimantan Selatan) dan DH (swasta). Diduga upaya penyuapan terkait kasus sengketa Pilkada Gunung Mas.

Operasi tangkap tangan yang dipimpin penyidik KPK Novel Baswedan itu dilakukan sekitar pukul 22.00, berdasarkan informasi yang diterima KPK beberapa hari belakangan ini. Saat ini KPK sudah memberikan KPK-line di rumah Akil Mochtar serta 2 buah mobil, termasuk mobil sedan dinas AM. Penggeledahan juga dilakukan di Gedung MK termasuk ruang kerja AM. Para Hakim Konstitusi serta Sekjen MK Djanedri M. Ghaffar berkumpul di Gedung MK. Novel Baswedan sendiri yang memberikan penjelasan kepada Sekjen MK perihal penggeledahan dan meminta tak satu pun orang yang masuk ke ruang kerja Ketua MK.

Kejadian ini sungguh mengejutkan. MK, lembaga yang semasa dipimpin oleh Mahfud MD dikenal sebagai lembaga yang bersih, kini telah ternoda karena Ketuanya ditangkap tangan KPK. Kita mungkin masih ingat bagaimana Mahfud MD mengajak Sekjen MK, Djanedri M. Ghaffar ke istana, menemui Presiden SBY, pada Mei 2011, untuk melaporkan perilaku tak etis Nazaruddin yang saat itu masih menjabat sebagai anggota Komisi III DPR dan sekaligus Bendahara Umum Partai Demokrat. Nazar pernah sempat memberikan sebuah amplop berisi sejumlah uang dollar Singapura kepada Djanedri pada suatau malam usai pertemuan di sebuah restoran. Berkat laporan Mahfud MD itulah SBY kemudian tak ragu untuk menonaktifkan Nazaruddin yang saat itu masih dibela oleh kolega-koleganya di DPR dan Demokrat.

Jujur saja, kekaguman saya pada Pak Mahfud MD makin bertambah. Entah berapa banyak perkara sengketa Pilkada yang telah ditangani Mahfud dan perkara kontroversial lainnya, selama masa jabatannya sejak 2008 – 2013. Namun sampai akhir masa jabatannya, Mahfud MD tetap bersih. Kini, Akil Mochtar – dulu pernah menjadi anggota DPR dari Golkar – baru menjabat beberapa bulan saja sudah tertangkap tangan KPK. Bukan hanya Mahfud, seluruh hakim konstitusi di lingkungan MK serta Sekjennya relatif bersih dari issu suap, ketika masih dipimpin Mahfud. Bahkan waktu itu orang-orang dekat istana yang sempat gerah dengan pernyataan-pernyataan tajam Mahfud soal mafia narkoba yang mulai “masuk ke istana”, pernah mengancam akan membuka borok MK, namun sampai akhir masa jabatan Mahfud, ancaman itu cuma gertak sambal belaka.

Semasa dipimpin Mahfud, MK pernah membuat terobosan yang mengijinkan KPK memutar rekaman hasil sadapan pembicaraan telepon antara Anggodo Widjojo (kakak Anggoro Widjojo yang masih buron) dengan sejumlah orang yang isinya sangat mencengangkan publik. Saat itulah dikenal sebutan “Truno 3” yang diduga mengarah pada Kabareskrim Mabes Polri yang saat itu dijabat oleh Susno Duadji. Bahkan Anggodo dengan bebas menyebut nama Susno tanpa kata “pak”, seolah pada teman sendiri. Juga disebut-sebut nama seorang Jaksa di Kejagung. Rekaman sadapan yang diperdengarkan di gedung MK dan disiarkan langsung oleh beberapa stasiun TV itu kemudian membuat dukungan kepada KPK makin mengkristal dan itulah kasus cicak vs buaya jilid pertama.

Kini, pasca penangkapan Akil Mochtar, seolah makin membenarkan bahwa orang bersih dan jujur di republik ini sudah makin langka. Jika Ketua MK saja bisa dengan mudah – masa jabatan baru seumur jagung – menerima suap, maka kemana lagikah rakyat akan mencari keadilan? Kelak, hasil Pilkada akan makin mudah digugat, ada atau tidak kecurangan. Pemenangnya bukan lagi yang benar-benar berhak, namun yang punya uang banyak, punya koneksi di DPR dan dibeking pengusaha. Semoga saja ini tak terjadi. Berharap penangkapan AM ini akan jadi cambuk pelecut bagi hakim konstitusi lainnya, agar kembali ke jalan yang benar dan marwah MK sebagai lembaga tinggi kembali disegani masyarakat seperti ketika masih dipimpin Mahfud MD. Go ahead KPK, rakyat mendukung penuh! Hanya mereka yang tak bersih yang gerah dengan sepak terjang KPK.

sumber :  Kompasiana

Diperiksa KPK, Yossi Mengaku Ditanya soal Rekaman Percakapan Dada

dada-rosada

foto:kompas

Sekda (Sekretaris Daerah) Kota Bandung Yossi Irianto mengakui ketika menjalani pemeriksaan di KPK, Jakarta, Selasa (1/10/2013), penyidik memutar rekaman pembicaraan mantan Wali Kota Bandung Dada Rosada yang menjadi tersangka kasus dugaan suap penanganan perkara korupsi bantuan sosial (BANSOS) pemerintah kota. Yossi menjalani pemeriksaan sebagai saksi untuk Dada.

“Semuanya soal Dada, terutama terkait rekaman percakapan Dada,” kata Yossi di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, seusai pemeriksaan.

Yossi mengakui, selain diperdengarkan rekaman percakapan telepon sadapan antara Dada dengan bekas Sekretaris Daerah Kota Bandung, Edi Siswadi, penyidik juga memutar rekaman telepon sadapan antara Dada dengan dia. Tetapi, Yossi tidak menjelaskan isi percakapan yang dimaksud.

“(Percakapan) Pak Dada dengan saya juga ada, tapi untuk kegiatan lain,” ujar Yossi.

Namun, Yossi enggan mengungkapkan isi rekaman percakapan yang diperdengarkan penyidik KPK kepadanya itu. Dia malah mengatakan bahwa pemeriksaan hari ini berjalan cepat dan fokus. “Karena fokus, pemeriksaan jadi cepat. Bahkan, tadi juga masih sempat ngobrol dengan penyidik,” ujarnya.

Yossi menjabat sebagai sekda Bandung menggantikan Edi Siswadi yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Dia diperiksa KPK karena dianggap tahu seputar kasus dugaan suap yang melibatkan sejumlah pejabat Pemkot Bandung tersebut.

Selain memanggil Yossi, KPK memeriksa sejumlah saksi lainnya, yakni anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bandung, Aat Safaat Hodijat; ajudan Dada, Adhi Al-Afwan Izwar; dan seorang PNS di DPKAD Pemkot Bandung, Pupung Hadijah.

Kasus dugaan suap terkait penanganan perkara bansos Pemkot Bandung ini melibatkan enam tersangka. Selain Dada dan Edi, mereka yang jadi tersangka adalah Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bandung Setyabudi Tejocahyono, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pengelolaan Kekayaan dan Aset Daerah Pemkot Bandung Herry Nurhayat, Ketua Gasibu Padjajaran Toto Hutagalung yang juga orang dekat Dada, serta seorang pria bernama Asep yang diduga suruhan Toto.

pencemaran sungai di kab bandung.jpg

Pencemaran Sungai di Kab. Bandung Menggila

pencemaran-sungai-dikab.-bandung

KAB. BANDUNG (RD) – Pencemaran sungai di kab.Bandung makin hari semakin menggila. Sungai Citarum, yang merupakan salah satu sungai di Kabupaten Bandung, sekarang terkena dampak limbah pabrik paling parah, beberapa anak sungai yang membentang di wilayah Kabupaten Bandung pun kondisinya sangat memprihatinkan. Seperti anak sungai yang mengalir di wilayah Pameungpeuk, Kabupaten Bandung yang alirannya bermuara ke Sungai Citarum, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan,  karena warna air sering berubah, dan menimbulkan bau tidak sedap.

Read More »